Light/Dark

God of Cooking - Chapter 271 Bahasa Indonesia - Minat Spesial (4)

Membaca Novel BerjudulGod of Cooking - Chapter 271 Bahasa Indonesia - Minat Spesial (4) . baca novel lainnya ya. Daftar koleksi Novel ada pada menu Daftar Novel.
God of Cooking - Chapter 271 Bahasa Indonesia - Minat Spesial (4)

Penerjemah: Hennay

God of Cooking: Chapter 271 <Minat spesial (4)>

 

“Aku ingin mencoba semua makanan di Korea.”

Kata Kaya pada Jo Minjoon segera setelah dia membuka mata di pagi hari. Mengetahui bahwa udara masih terasa dingin, Jo Minjoon, membungkus dirinya lalu berguling memunggungi Kaya. Kaya kemudian duduk di atasnya dan berkata.

“Bangun! Ini sudah jam tujuh.”

“… Kenapa sih kau mengatakannya seolah kita sudah telat.”

“Entah itu libur atau pun masuk kerja, aku akan memberitahumu ketika hari sudah pagi, tetapi sekarang sedang liburan. Kita tidak punya banyak waktu tersisa di Korea. Ayo cepat bangun. Aku lapar.”

“Bukankah kau seharusnya membuatkan sarapan?”

“Apa kau akan bertingkah seperti ini?”

“Baiklah. Baiklah. Aku paham. Aku akan siap dalam tiga. Tidak, empat menit.”

Gumam Jo Minjoon sambal menenggelamkan wajahnya di bantal. Dia lelah,secara fisik dan juga mental. Sudah berapa lama sejak dia kembali ke Korea? Dia datang ke Korea untuk beristirahat, tetapi tampaknya dia malah sakit.

Meskipun Jo Minjoon tampak lelah, Kaya menghela napas dan menjewer pipi Minjoon. Pipinya dulu montok, tapi sekarang hampir tidak ada lemak. Itu sampai pada titik di mana dia bahkan hampir tidak bisa meraih kulitnya.

“Kau ingin makan sesuatu?”

“Tidak.”

“Kau ingin aku makan apa?”

“Air. Air murni di rumah ini enak.”

“Jadi, kau mau dihajar?”

Suara Kaya terdengar dingin. Jo Minjoon bangun dengan terkikik. Dia menyisir rambutnya yang berantakan lalu melihat ke sekeliling.

“Apa yang ingin kau makan?”

“Sekarang sedang dingin. Makanan yang hangat.”

“Baiklah. Ayo pergi.”

Jo Minjoon bangun dari tempat tidur dan Kaya melihat Minjoon dengan ekspresi aneh.

“Kau tidak mandi?”

“Tidak perlu khawatir. Kita hanya pergi mencari sarapan.”

“Kau mandi setiap hari selama di AS.”

“Itu karena di sana bukan rumahku. Di sini rumahku.”

“Tetap saja. Orang-orang akan berusaha memotretmu.”

“…Sepertinya begitu.”

Jo Minjoon menghela napas. Dulu di Amerika, terutama di Los Angeles, ada begitu banyak selebritas populer sehingga orang tidak terlalu memperhatikan selebritas yang sedang naik daun seperti dia. Jadi, dia tidak merasa tidak nyaman berjalan di jalanan. Tapi tentu saja, lain ceritanya dengan restoran tempat para penggemar datang mengunjunginya.

Namun, hal yang berbeda di Korea. Budaya internet Korea berada pada level yang berbeda. Ada lebih banyak orang yang mengenalinya daripada biasanya. Bahkan ada orang yang singgah dan meminta tanda tangan atau fotonya.

Akhirnya, ketika Jo Minjoon mandi dan keluar, Jemma atau yang lainnya tidak menemani mereka. Mungkin karena mereka lelah, tetapi mereka juga ingin memberikan ruang dan waktu bagi pasangan.

“Kau akan membawaku ke mana?”

“Aku tahu suatu tempat.”

“Tidak seperti sebelumnya, kau membawaku ke tempat gurita, bukan?”

“Kau bilang itu tidak buruk.”

“Selain rasanya… Aku sungguh tidak menikmatinya.”

Kaya menggelengkan kepala, menunjukkan deretan giginya seolah dia lelah memikirkan gurita. Dia agak enggan untuk mencoba sup gurita, tetapi ketika dia menghadapi gurita hidup, dia bahkan tidak bisa mengangkat garpunya. Kaya kembali menatap Jo Minjoon dengan tatapan dingin.

“Kau tidak berpikir akan  menyantapnya lagi kan?”

“Itu lebih baik dari rebusan penis yang kau paksa aku untuk memakannya.”

“Kenapa kau selalu membahas itu? Selain itu, bukan aku yang memaksamu untuk memakannya. Para juri yang memaksamu. Omong-omong, ke mana kita pergi?”

“Ke restoran sup. Aku beberapa kali ke sana saat masih kecil sebelum kami pindah. Aku penasaran apakah masih buka.”

“Kau masih ingat jalannya?”

“Kau tidak tahu aku punya ingatan yang bagus? Kita akan segera sampai. Jangan khawatir.”

Namun, beberapa menit berubah menjadi satu jam berputar-putar. Tatapan Jo Minjoon menjadi semakin cemas, jadi dia menepi dan berkata.

“…Aku akan memakai navigasi.”

Tatapan tidak menyenangkan Kaya tidak hilang bahkan setelah memasuki restoran. Dia mengendus dan melihat sekeliling.

“Bau apa ini? Daging babi…Bukan, daging sapi?”

“Iya. Sup daging sapi. Mereka memasukkan segala macam ke sup kepala daging sapi. Enak, aku jamin.”

Kata Jo Minjoon pada Kaya sambal melihat ke sekeliling. Di banding kedai mie Kim Minsuk, di sini ada lebih banyak pelanggan. Jo Minjoon menatap ke periuk batu dengan terpesona.

[Sup kepala sapi] Kesegaran: 97%
Sumber: (Bahan-bahan disembunyikan)
Kualitas: Tinggi
Skor: 8/10

‘…delapan poin. Tempat ini.”

Sejujurnya dia tidak berpikir skornya akan setinggi itu karena tempat itu adalah restoran yang sangat dia kenal dan dia pernah datang berkali-kali ketika masih muda.

Meskipun mungkin lebih mudah untuk mendapatkan skor yang lebih tinggi dengan memasak sup untuk jangka waktu yang lebih lama, ini adalah pertama kalinya melihat restoran sup dengan skor yang begitu tinggi.

“Itu pasti enak.”

Katanya dengan percaya diri. Namun, Kaya melihat Jo Minjoon dengan tatapan curiga. Seorang pemuda yang terlihat seperti anak kuliahan menghampiri Jo Minjoon dan berkata.

“Apa kau… Mr. Jo Minjoon?”

“Ya, betul.”

“Wow! Aku … penggemar beratmu. Aku menonton semua episode Grand Chef, Perjalanan kuliner, dan Rose Island.”

“Haha… Terima kasih.”

Jo Minjoon tertawa seolah dia malu. Akan tetapi sorot matanya tertuju pada tangan pemuda itu. Pemuda itu menggenggam ponsel seolah ingin berfoto dengannya tetapi dia tidak mengutarakannya. Akhirnya, Jo Minjoon yang duluan menyarankan untuk berfoto bersama. Saat mereka selesai berfoto, pemuda itu berkata dengan nada suka cita.

“Aku pergi ke tempat mie yang kau rekomendasikan. Enak. Aku penasaran kenapa Mr. Lee Namhoon…”

“Haha…”

Dengan senyum canggung, Jo Minjoon tertawa garing. Barulah saat itu pemuda itu sadar bahwa itu adalah topik sensitif dan dia memutuskan untuk tetap diam. Seolah diberi aba-aba, pramusaji menyajikan hidangan itu. Saat Kaya membuka tutup mangkuk nasi, dia berbicara.

“Apa yang akan kau lakukan pada orang itu?”

“Apa yang bisa kulakukan?”

“Orang itu sudah mengatakannya. Jika kau sungguh ingin mengkritiknya, seharusnya kau melakukannya dengan benar.

“Well, dia benar pada poin tertentu. Sejujurnya aku bukan orang yang paling tahu tentang makanan Korea. Aku akan memberinya itu. Tapi, dia tidak punya hak, atau kemampuan untuk menghakimiku. Apa yang dia tahu tentang aku? Pada poin ini, dia bersikap kasar. Jadi, aku tidak mau terkait atau berbicara dengan orang seperti dia. Membicarakannya saja aku merasa tidak nyaman.”

Jo Minjoon mendengus lalu mengangkat sendoknya. Tampilan kesal yang dia miliki terganti dengan senyuman setelah dia menyantap sesendok sup. Cita rasanya sama seperti yang dia ingat. Itu adalah cita rasa yang membawa dirinya kembali ke masa lalu. Rasa gurih yang kaya bercampur dengan rasa asin dan ringan dari bubuk perilla menciptakan rasa yang sehat yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Hidangan itu cantik. Hidangan itu berisi hati dan filosofi koki seperti sebuah karya seni. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan tokoh protagonis wanita yang berpakaian indah di film, hidangan itu seperti nenek Korea yang peduli dengan pakaian tradisionalnya dan sedang duduk di bawah tenda saat gerimis. Perasaan peduli membuat kesan yang lebih dalam daripada yang bisa dilakukan oleh seorang tokoh protagonis wanita.

‘Ada keindahan dalam kesederhanaan…’

Cita rasanya menyentuh perasaan lebih baik dari yang bisa dilakukan keindahan sendiri. Mungkin karena dia adalah orang Korea, tetapi ada banyak hal yang berkejaran di benak Jo Minjoon.

Oleh karena itu, Kaya tidak  merespon. Dia tahun betapa pentingnya momen itu dan dia tidak ingin mengganggu Minjoon selagi menikmati makanan. Sampai pada Kaya menggigit sesuatu yang dia pikir adalah tofu tetapi rasanya seperti darah.

“Apa sih ini?”

“…Oh, itu. Itu terbuat dari darah sapi. Mirip dengan puding darah.”

“Aku benar-benar bangun sekarang. Kenapa selalu ada yang aneh dalam hidangan-hidangan ini?”

“Itu bukan aneh, tapi eksotis… Sejujurnya, beberapa orang Korea juga tidak menyukainya.”

“Kau pasti sangat menikmati mengusiliku.”

Kaya menusuk bibirnya tetapi tidak menghentikan makannya. Meski tampilan dan baunya mungkin eksotis, supnya sendiri enak.

“Kau tidak bilang kalau rasanya enak.”

“…Aku sudah bilang aku tidak tahu hidangan-hidangan Korea dengan sangat baik. Tapi mencicipinya setelah sekian lama, kurasa akhirnya aku paham cita rasa hidangan Korea…. Kurasa aku tahu bagaimana merespon orang itu.”

“Bagaimana?”

“Mau ke pasar setelah ini?”

Kaya menjawab Jo Minjoon. Meskipun Kaya terlihat bingung, Jo Minjoon tidak mengganggunya dan terus makan. Beberapa saat kemudian, kedua mangkuk sup itu habis. Jo Minjoon tersenyum dan berkata.

“Kau makan darahnya dengan sangat baik.”

“Jangan mengatakannya seperti itu. Kau membuatku seolah seperti vampir..”

Jo Minjoon tersenyum dalam diam. Kaya penasaran tentang apa yang sedang dipikirkan Minjoon,  tetapi tidak mengorek lebih banyak lagi. Dia tahu ketika Minjoon seperti ini, dia tidak akan banyak bercerita padanya.

Setelah kembali dari pasar, Jo Minjoon mengeluarkan talenan. Dia menyerahkan ponselnya pada Jemma yang baru saja bangun.

“Jemma, aku akan mulai memasak. Bisakah kau memotret kami?”

“Kenapa perlu difoto?”

“Aku akan memberi tahu orang-orang tentang resep yang umum dan sederhana, tetapi enak.”

Jemma bingung tetapi dia mengangguk. Jadi, dimulailah sesi memasak. Yang dibuat Jo Minjoon tidaklah istimewa. Dan tidak ada kombinasi khusus yang berubah.

Dia memotong sedikit daging sirloin lalu memasaknya di atas panggangan. Dia membuat sup miso dengan miso, tahu lunak, dan bawang bombay. Lobak berbumbu dan taoge kedelai berbumbu. Bayam berbumbu dan cabai berbumbu. Makarel kukus. Ada banyak hidangan, tetapi masing-masing adalah hidangan umum yang mudah dibuat.

Namun, hidangan ini dapat dengan mudah diubah karena merupakan hidangan dasar. Saat itulah masakan Jo Minjoon benar-benar dimulai. Kaya membantu di bawah komando Minjoon dan sesi memasak berlangsung dalam waktu singkat.

Selalu dimulai dengan saus. Jo Minjoon memasukkan madu, cabai pedas, daun wijen, bawang putih, jahe, dan sake ke dalam kecap, lalu direbus sebentar. Namun, itu baru permulaan. Setelah saus kecap dingin, dia mengoleskannya ke daging sirloin. Dia menambahkan soju dan cuka ke kecap dan mengoleskannya ke makarel kukus.

Jo Minjoon secara akurat menimbang rasio semua bahan saat membumbui. Itu bukan karena dia tidak mempercayai seleranya. Dia hanya ingin orang tahu. Dalam beberapa tahun, tidak, beberapa bulan, resep seperti ini akan menjadi umum di antara banyak koki, tetapi untuk saat ini, menyerahkannya di tangan seorang blogger adalah yang terbaik. Dia yakin ada seseorang yang akan membutuhkan ini.

‘…Ini hidangan biasa, tetapi cita rasanya tidak akan biasa.’

Semua cara yang diketahui Minjoon dikumpulkannya. Pengalaman yang dia kumpulkan selama kehidupan masa lalunya dan bakat briliannya dalam kehidupan saat ini melebur bersama. Meskipun sebagian besar poin memasak berkisar antara enam hingga tujuh, dan hanya makarel kukus yang bernilai delapan. Dia tahu bahwa kemudahan membuat hidangan ini akan menjadi daya tarik dari hidangan ini. Pada saat yang sama, semua orang akan mengenali dari resepnya seberapa banyak dia berpikir dan banyak dia memahami makanan Korea.

Jemma menelan ludah. Ketika berbicara tentang masakan eksotis, biasanya merasa tidak nyaman, tetapi Jo Minjoon terbiasa setelah berurusan dengan semua jenis orang di Los Angeles. Hidangan yang dia buat selalu memiliki kekuatan untuk melampaui batas dan merangsang naluri yang tersembunyi jauh di dalam hati setiap orang.

“Tampaknya enak…”

Aromanya membawa Bruce dan Grace, yang terlihat lelah, ke dapur. Saat Jo Minjoon sedang menyajikan, dia bertanya.

“Aku membeli beberapa tortilla. Kalian mau nasi atau tortilla?”

“Karena kita di Korea, sebaiknya kita menyantap nasi. Aku mau nasi.”

“Pilihan bagus.”

Jo Minjoon tersenyum lalu mengangkat ikan makarel  kukus. Ikan makarel, yang dipanggang sebentar dengan kanji kemudian dikukus, terasa sangat kenyal dan lembut tetapi tidak ada rasa amis. Dia menghiasi sisa hidangan dengan daun bawang dan biji wijen. Jemma rajin memotret semua hidangan. Kaya meletakkan masakan terakhir di atas meja lalu memandang Jemma dan Jo Minjoon.

“Terlihat bagaimana?; apa kau mengambil foto yang bagus?”

“Ya.”

“Coba kulihat. Oh, kau benar. Bagus-bagus fotonya, Jemma.”

Jemma tersenyum pada pujian Jo Minjoon. Jo Minjoon menyisihkan ponselnya lalu duduk di meja. Meskipun dia ingin segera mengunggah foto-foto itu, dia menahannya karena dia tahu bahwa hidangannya akan segera dingin.

“Terima kasih atas makanannya.”

Jo Minjoon bergumam singkat dalam bahasa Korea lalu mengambil sumpitnya. Hidangan pertama yang dia raih adalah makarel. Dia menaruh sepotong di mulutnya, penasaran seberapa baik ikannya dikukus. Dia tersenyum dan bergumam dengan suara percaya diri. “Aku bisa  mengunggah resepnya.”

Mendengar ucapan Jo Minjoon, yang lain juga mengambil ikan makarel dengan garpu mereka. Jo Minjoon lanjut berkata

“…Inilah cita rasa makanan Korea.”

“Ini sangat enak, Minjoon.”

Bruce dan Grace terkesima. Jo Minjoon tersenyum, hal yang bisa membuatnya senang adalah dengan cara memasak. Lee Namhoon. Dia tahu bahwa dia tidak akan sampai ke mana pun dengan beradu pendapat dengan orang seperti dia, itu hanya akan membuat dia lelah.

Jo Minjoon tidak mulai memasak karena dia ingin menyakiti seseorang atau membuat dirinya terlihat lebih baik daripada orang lain. Dia mulai memasak karena dia ingin berbagi masakannya dengan orang lain dan melihat mereka tersenyum. Tentu saja, akan ada beberapa orang yang menyerangnya seperti Lee Namhoon. Tetapi tidak ada gunanya menanggapi orang-orang seperti ini.

‘Seorang chef berbicara melalui masakannya.’

Jo Minjoon mengangkat sumpitnya. Segumpal nasi putih yang ada di atas sumpitnya terlihat menggemaskan. Hidangan Korea mirip dengan nasi putih.

Tidak mewah. Meskipun banyak, masing-masing bahan tidak mahal. Tidak butuh keterampilan mewah tingkat lanjut untuk mempersiapkannya. Yang dibutuhkan hanyalah ketulusan. Kim Minsuk menunjukkan ketulusan, dan Jo Minjoon tulus pada makanan yang dia masak. Dia percaya siapa pun yang menggunakan resepnya, jika tulus memasaknya, dia bisa membuat makanan yang lezat.

Itu adalah pesan yang sederhana, yang mengatakan bahwa dia memahami ketulusan dalam masakan Korea, dan dia bisa merasakan ketulusan itu. Hanya dengan mengungkapkan itu,  dia mampu meredakan amarah dan masalah di hatinya. Jo Minjoon memandang Kaya, Jemma, Grace, dan Bruce. Wajah mereka yang tersenyum, pipi yang rapat, dan bibir yang bengkak tampak damai.

“Aku suka melihat ini.”

Meskipun mereka sedikit lambat, mereka memahami pendapat Jo Minjoon, begitu mereka paham apa yang dimaksudkan Minjoon, mereka semua melihat Jo Minjoon dengan ekspresi bingung. Jo Minjoon lanjut dengan senyum di wajahnya.

“Aku suka meja makan yang penuh.”

<Minat spesial (4)> Selesai.





God of Cooking - Chapter 271 Bahasa Indonesia - Minat Spesial (4)